10 KIAT BERSABAR DALAM MENDIDIK ANAK #1

Ibu, jika ada hal yang mempesonakan di muka bumi ini, salah satunya tentulah dunia anak. Didunia itu segala keajaiban dapat terjadi. Kita, sebagai orang dewasa, tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi dan apa yang akan dilakukan anak dari detik ke detik.

Suatu hari sehabis menonton pertunjukan di televisi, bisa saja anak anda membayangkan menjadi tokoh jagoan dalam film yang baru saja diputar. Berlari-lari sambil bertelanjang dada dengan gaya khas jagoan idolanya berteriak-teriak untuk ‘menegakkan kebenaran’ (ini sinch*n banget ya)

Celakanya, jarang sekali kita, para orang tua, menikmati pemandangan ini. Mungkin kita lebih sabar jika harus antri berlama-lama di supermarket, atau menanti tayangan favorit di televisi. Jika melihat kelakuan anak kita seperti itu, mungkin kita serta merta akan memarahi anak karena telah berbuat keributan atau mungkin menoleh sesaat pada anak, mengambil nafas panjang lalu kembali khusyuk di depan televisi/ngeloyor pergi.

Semua sikap itu menunjukan kekurangsabaran diri. Kita gagal melihat sisi humor atau kelucuan di balik situasi tersebut.

Bersabar dalam mendidik anak adalah berusaha berpikir positif terhadap segala kemungkinan  tingkah laku anak. Setiap orang tua dengan demikian harus menyediakan kelapangan hati dalam menghadapi tingkah laku anak. Mulai dari tingkahnya yang lucu hingga yang tidak pernah terbayangkan sama sekali.

Kiat membangun rasa sabar #1 BERPIKIRLAH POSITIF

  • Mengatasi konflik dan bukan memperburuk konflik

Keributan antara anak dengan anak atau anak dengan orang tua tidak akan pernah berhenti jika tidak diselesaikan. Orang tua yang berpikir positif adalah orang tua yang mencoba mencari akar permasalahan dan mencari jalan keluar yang jelas.

Contoh kasus:

Banyak anak yang susah untuk tidur dimalam hari. Mereka mampu bertahan berjam-jam melewati batas kantuk orang tuanya. Banyak orang tua yang tidak bosan-bosannya memberika ceramah untuk cepat pergi tidur atau memaksa anak memejamkan mata dengan ancaman.

Penyelesaian:

Carilah asal permasalahannya dengan memperhatikan apakah tidur siangnya terlalu banyak. Atau apakah anak sebelum tidur berlarian sehingga jantungnya masih berdebar  dan dia belum dapat tidur dengan tenang. Kembangkanlah berbagai kemungkinan sampai kita menemukan akan permasalahnnya.

  • Lihatlah kelebihan, bukan kekurangannya

Jika anak terlalu sering bersikap negatif, orang tua mudah kehilangan pandangan tentang anaknya. Menjadi orang tua positif berarti orang tua mengetahui bahwa anak juga memiliki hal positif dalam dirinya.

Contoh kasus:

Zaki, 7 tahun, sulit sekali dilarang. Apa saja yang dikerjakannya selalu menimbulkan pertengkaran dengan ibunya. Sampai-sampai ibunya berikir Zaki ini ‘anak siapa’ sih, yang dikerjakan semuanya tidak ada yang benar.

Penyelesaian;

Kita sering kali lebih sibuk dengan tingkah laku negatif anak, sehingga anak berkesimpulan “kalau nakal pasti ibu perhatikan aku”. Anak-anak tidak peduli dengan berntuk perhatian. Dimarahi lebih baik daripada tidak diperhatikan. Mungkin ibu Zaki perlu merubah perhatianya lebih pada hal yang positif.

  • Ajarkan tingkah laku yang diharapkan dan jangan menyalahkannya

Tekanan tingkah laku negatif anak seringkali membuat kita menyalahkan anak setiap waktu. Orang tua yang positif mencari jalan untuk dapat merubah tingkah laku anaknya.

Contoh kasus:

Jay, kenapa sih kamu masih ‘malak’ teman kamu?uang udah ibu kasih koq masih ‘malak’ juga?otaknya dimana sih. Mikir dong apa kata tetangga.

Penyelesaian:

Daripada menyalahkan, lebih baik berikan Jay peraturan, misalnya “Jay, ibu tahu kamu kadang-kadang ingin beli mainan atau makanan, sedangkan uang Jay tidak cukup. Sekarang Jay nggak usah minta lagi ke teman-teman tapi Jay bilang ke ibu, insya Allah nanti kalau ibu ada uang ibu belikan atau nanti Jay ibu kasih uang tambahan untuk ditabung. Ingat ya Jay” . Bila Jay melaksanakan peraturan yang telah disepakati, berikan pujian dan harga usaha anak.

  • Lakukan kendali/ kontrol, jangan pasif

Anak-anak dapat ‘menguasai’ hidup kita, mendominasi waktu kita dan membuat orang tua menjadi tidak berdaya. Orang tua yang positif akan melakukan kendali terhadap anaknya.

Contoh kasus:

Setiap kali pulang sekolah, Ami selalu membawa mainan baru. Ketika ibunya bertanya, ami mengatakan tidak mengambil mainan temannya, melainkan dihadiahkan oleh temannya.

Penyelesaian:

Ibu tidak boleh percaya begitu saja. Ibu harus melakukan pengecekan secara detail (tabayyun=cek and ricek). Kalau perlu orang tua pergi ke sekolah tanpa sepengetahuan Ami, untuk memastikan ami tidak meminta melainkan diberi oleh temannya.

…bersambung…

One response to this post.

  1. Salam kenal..
    Nama saya Kak Zepe,..Saya penulis lagu anak..
    Juga penulis artikel2 parenting, dan pendidikan kreatif. lagu anak, dan dongeng pendidikan…
    Semua karya saya ada di http://LAGU2ANAK.BLOGSPOT.COM
    Mari bertukar link…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: